A brief history of Panglipur

SEJARAH SINGKAT PANGLIPUR

Penca Silat adalah suatu seni dan olah raga yang kompleks yang sudah berkembang di Indonesia secara turun temurun sebagai suatu tradisi dan budaya masyarakat Indonesia—khususnya Jawa Barat—sejak 300 tahun yang lalu yang sebelumnya hanyalah sebagai pendidkan wajib di lingkungan keprajuritan kerajaan saja. Kesempurnaan penca sebagai suatu seni dan olah raga yang kompleks dilihat dari keragaman aspeknya, yang meliputi: aspek seni budaya, aspek beladiri, aspek olah raga, dan aspek mental spiritual. Keempat aspek ini menyatu dalam suatu bentuk tatanan gerak etis dan estetis yang mengandung nilai kepribadian yang luhur, baik olah lahir maupun olah batin.

Himpunan Pencak Silat (HPS) Panglipur adalah suatu perguruan yang didirikan oleh Abah Aleh pada tahun 1909 di Gg. Durman dekat pasar baru Bandung, Beliau adalah keturunan Banten yang lahir di Garut pada tahun 1856 dan wafat di Garut tahun 1980. Selain itu juga di rumah beliau yang terletak di Kp. Sumursari, Ds. Sukasono, Sukawening Garut, Abah Aleh merinitis perguruan Panglipur ini dengan membuka cabang tempat latihan pertama yang diberi nama Pusaka Panglipur.

Sebelum membuka sekolah Panglipur di Bandung, sejak umur 18 Tahun, setelah selesai menimba ilmu silat dan kanuragan di kampung halamannya di Sukawening Garut Abah Aleh telah berkelana sambil mencari ayahnya dari Garut ke Cianjur lalu ke Menes Banten. Ayahnya adalah merupakan keluarga pesantren yang mengajarkan keilmuan agama dan pencak silat di pesantrennya. Selesai menimba ilmu di tempat ayahnya, Abah Aleh lalu meneruskan pengembaraannya ke Bogor, Sukabumi, hingga ke Bandung. Disana ia banyak dicoba keahlian silatnya oleh guru-guru penca silat dan jawara-jawara di sekitar wilayah Bandung dan dengan kematangan pengalamannya akhirnya ia bisa menyatukan para ahli silat tersebut dan mendirikan HPS Panglipur.

Penerus beliau adalah putra sulung beliau yang bernama Letnan AURI Udi yang lalu dilanjutkan oleh putrinya—adik dari Letnan AURI Udi—yaitu Ibu Enni Rukmini Sekarningrat yang pada saat Abah Aleh mulai lebih banyak tinggal dan mengajar di garut, putri beliau tersebut menggantikannya sebagai pemimpin perguruan di Bandung. Pada saat itu tempat berlatih berpusat di Jl. Dewi Sartika, Gang Panglipur no. 20/81 Bandung.

Di kota Bandung sejak waktu itu sudah ada lima cabang panglipur, antara lain cabang Bandung Barat diketuai oleh H. Basuni (alm), Pagarsih diketuai oleh Abah Bakri (alm), Ciwidey diketuai oleh Lurah Prawira (alm), Babakan Jati diketuai oleh H. Basuki (alm), Lembang diketuai oleh Aki Tarmedi (alm), dan Buah Batu diketuai oleh Bah Soma (alm), Kopo diketuai oleh Bah Omi, Oyi, dan Bah Udi, serta banyak lagi tokoh-tokoh yang lainnya. Cabang-cabang Panglipur di luar Bandung, antara lain Majalengka, Talaga, Kuningan, Garut, Cianjur. Semua cabang-cabang tersebut harus berada dalam pengawasan Panglipur Pusat yang dipimpin oleh Ibu Enni. Sampai detik ini Panglipur terus berkembang dengan pesat, baik di dalam maupun di luar negeri.

Di samping sebagai seorang pimpinan Panglipur, ternyata Rd. Enny Rukmini Sekarningrat, temasuk juga sebagai seorang guru silat atau pelatih yang aktif, ia pernah melatih anggota tentara Rindam VI Siliwangi, Kompi Protokol Pimpinan Kapten. H. MSTA. Jhonny (alm, terakhir berpangkat Kolonel), melatih anggota tentara BDI II Siliwangi Pangalengan pimpinan Letkol. Suryamin, melatih pemuda-pemuda putus sekolah, pernah melatih di SMP, SMA, SPG dan Mahasiswa, serta siswa-siswa Dodiklat Polri dan anak-anak CPM di Cimahi, melatih orang-orang asing yang sengaja datang untuk berguru di Panglipur. Bahkan pernah mendirikan organisasi tukang becak yang diberi nama Himpunan Pengendara Becak Indonesia (HPBI), kemudian tukang Becak tersebut dikursuskan setir mobil sampai mereka, menjadi sopir Bemo di Cicendo Bandung.

Pemberian nama Panglipur diberikan oleh Bupati Bandung yang bernama Wiranatakusumah, yang bergelar Dalem Bintang. Alkisah manakala disaat menderita sakit Beliau ingin dihibur oleh kesenian silat yang dipimpin oleh Abah Aleh dan tembang Cianjuran yang dipimpin Bapak Hamim. Konon kisah tersebut berlanjut dan Beliau sembuh dari sakitnya, sehingga Beliau berkenan menganugrahkan penghargaan dengan memberikan nama kepada pencak silat Abah Aleh yaitu Panglipur Galih (Pelipur Hati) dan kepada grup tembang Cianjuran Bapak Hamim diberikan nama Panglipur (Penghibur). Namun setelah kedua tokoh tersebut berembug maka mereka setuju untuk tukar nama, sehingga Pencak Silat Abah Aleh diberi nama “Panglipur”. Nama ini memiliki 2 pengertian yang menjadi palsafah Panglipur yang merupakan singkatan dari:

1. Pek Aranjeun Neangan Guru Luhung Ilmuna, Poma Ulah Ria (Takabur).

Artinya dalam bahasa Indonesia : Silakan kalian mencari guru yang tinggi ilmunya, tetapi jangan sombong (takabur).

2. Pek Aranjeun Neangan Guru Luhung Ilmuna Pikeun Udageun Rasa.

Artinya dalam bahasa Indonesia : Silakan kalian mencari guru yang tinggi ilmunya untuk mencapai tingkatan rasa.

Dari tahun ke tahun, banyak yang berkembang berbagai cabang panglipur. Mereka tetap mengikutsertakan nama Panglipur pada nama perguruan masing-masing. Misalnya Rayi Panglipur, Sinar Panglipur, Panglipur Jembar Kencana, Panglipur Pamagersari, Panglipur Siliwangi, dst.

Lambang HPS Panglipur adalah Trisula dan Golok yang bersilang. Yang memiliki simbol sebagai serangan dan pertahanan yang harus bisa dikordinasikan dengan baik dan selaras. Lambang ini terletak diatas warna hijau sebagai simbol kesuburan dan keadilan dengan garis kuning sebagai simbol dari butir padi yang bisa memberikan kehidupan bagi umat dan bersipat makin tinggi ilmu makin merendah dan berakhlak mulia, juga diatas warna hitam sebagai simbol dari bumi dan keteguhan hati.

Keilmuan Panglipur merupakan merupakan perpaduan dari aliran besar di Jawa Barat dan Sumatra Barat, yaitu dari aliran-aliran sumber pencak silat di Jawa Barat yang dikenal dengan aliran Cimande (yang didirikan oleh Eyang Kahir pada tahun 1700 – 1789), aliran Cikalong (yang didirikan oleh H. Ibrahim pada tahun 1816 – 1906, perpaduan dari aliran Cimande dengan aliran yang dibawa dari Sumatera Barat oleh Bang Kari dan Bang Madi yang lebih dikenal dengan aliran Kari Madi), aliran Syabandar (yang didirikan oleh Haji Kosim pada tahun 1766-1880), aliran Sera (yang didirkan oleh Bapa Sera, tokoh dari Banten yang menggabungkan aliran Cimande dengan aliran dari Aceh), dan Aliran Betawi (yang merupakan gabungan antara aliran cimande, sera, kari madi, dan dengan bela diri lain yang dibawa oleh para pendatang dari bangsa imigran China, Arab, etc. yang menetap di Jakarta). Oleh Karena itu, Abah Aleh memiliki berbagai guru dari beberapa aliran tersebut, seperti:

  • Raden Agus yang mengajarkan Cimande Kampung Baru, Gerak Loncatan dan Permainan Senjata.

  • Haji Bajuri (Abah Maryani dari Bandung), yang mengajarkan Tepak Dua Salancar, Sipecut, Pecah Gunting dan Jalan Limbuhan (Dasar Golok).

  • Gan Uu, yang mengajarkan Jalan Cikalong 1 – 5.

  • Raden Ahmad (Gan Enggah), yang mengajarkan gerak Jalan Muka 1 – 5.

  • Raden Kosasih, yang mengajarkan aliran Sabandar, Jurus Sipitung, dan jalan Alip Bandul 1 – 5.

  • Gan Husen dan Uwa Da’i, yang mengajarkan permainan Bojong Herang, yaitu perpaduan Cimande, Cikalong dan Sabandar.

  • Gan Tatang, yang mengajarkan aliran cikalong yang merupakan perpaduan dari cimande, sabandar, kari dan madi.

Beberapa Tokoh Penerus Panglipur, diantaranya:

Bapak M. Tabrani, Ibu Enni rukmini Sekarningrat, Bapa HMSTA Jhoni, sebagai tokoh-tokoh kepengurusan Pusat Panglipur. Sedangkan dalam bidang keilmuan, diantaranya: Haji Adang Musa (Abah Uca), Bapa Uho Kholidin, Bapa M. Saleh, Bapa D. Hidayat, Aki Tarmedi, Aki Atjen, dst. Yang dilanjutkan juga oleh generasi berikutnya, seperti Bapa Djadja Widjaya Kusumah (yang juga merupakan penerus aliran peupeuhan Cikalong), Agus Irwan, Asep Gurwawan, Bapa Didi, Cecep Arif Rahman, dst.

Padepokan Kasundan (Padepokan SK Indonesia) sebagai salah satu wadah dalam pelatihan keilmuan Panglipur merupakan suatu tempat latihan yang kecil namun memiliki fasilitas yang menunjang sebagai sarana penggodokan beladiri untuk mencapai tingkat rasa dan pemahaman yang benar tentang berbagai aliran yang terdapat di Jawa Barat khususnya umumnya di seluruh nusantara serta menyusunnya menjadi suatu kurikulum yang efektif, sesuai keinginan, dan bisa dicapai melalui pelatihan dan pemahaman beladiri secara rasional.

Cecep Arif Rahman sebagai trainer dan pengelola Padepokan Kasundan ini adalah seorang generasi penerus Panglipur ke-6 yang secara terus menerus melatih diri dan meneliti keilmuan beladirinya sehingga akan selalu terbuka dan menerima dengan senang hati siapa saja yang ingin berlatih bersama dengannya.